Sabtu, 14 September 2013

LOVE>> I am on the Empty Way

Masih teringat jelas dibenakku saat itu kamu memutuskan hubungan kita. Jumat sore, tanggal 5 April 2013 disebuah warung penyetan saat kita makan malam setelah kamu menemani aku ke tukang urut untuk menormalkan kaki ku yang unstable pasca insiden trotoar. Semuanya jelas terekam dan kerap kali muncul berulang-ulang dalam pikiranku saat aku merasakan rindu yang sangat dalam padamu.

Kamu tau, ini sudah lebih dari enam bulan kita tak lagi bersama, menjalani hidup kita sendiri-sendiri. Namun, apakah kamu tau bahwa aku masih sangat sering merindukanmu? Ah...kamu pasti tau. Kamu sangat tau bahwa aku sangat sayang padamu, memiliki rasa yang begitu dalam padamu. Bahkan kerap kamu melontarkan kata-kata pembeku hatiku kala kita sesekali saling berkirim pesan.

Kamu tau, aku sering merasa dipermainkan oleh mu. Aku sering merasa kan marah padamu. Aku sering berburuk sangka padamu. Aku sering memaksakan diriku untuk tidak lagi mengingatmu. Tidak lagi mengirimu pesan bahkan sekedar untuk tau kabarmu. Karena, aku takut kamu akan menyakiti aku dalam sadar atau tidaknya dirimu. 

Namun, apa kamu tau? Aku tak pernah benar-benar bisa untuk memaksa diriku untuk melupakan kan mu. Bahkan sesadarnya aku, tiap hari pasti terlintas tentang mu dibenakku. Apakah segala hal mengenai kamu begitu penting bagiku? Kamu cukup paham itu. Mungkin, hanya aku yang tidak paham. Sulit untuk ku akui, aku masih sangat sayang padamu.

Kamu tau? Apakah kamu pernah menyadari bahwa kamu selalu membolak-balikan rasaku. Kamu seolah datang dan pergi sesuka hatimu, meskipun kamu tak berniat seperti itu. Karena, berdasarkan penjelasanmu aku cukup bisa memahami bahwa kamu sekarang memang tengah sibuk.

Kamu tau? Sering kali aku berpikir kamu terlalu hebat untuk membaca suasana hatiku dan mengolok-olokkannya. Bagaimana tidak? Setiap kali aku merindukanmu, kamu cuek dan hanya mengubris aku sekedarnya hingga aku merasa telah mempermalukan diriku yang terhormat ini karena telah menghubungimu. Disaat aku telah mengeraskan hatiku untuk tidak lagi melakukan hal yang sama, kamu datang dengan cara khas mu yang melontarkan hal-hal yang membuat aku mekar dan berasa di atas awan. Kemudian aku kembali berbaik sangka padamu. Tekad kuatku untuk menjauhkan diri dari mu, rubuh seketika. Disaat aku telah merasa nyaman kembali untuk berkomunikasi dengan mu, kamu kembali menjatuhkan aku ke tanah kering tanpa rumput, dan itu sakit. Kamu membuat aku merasa sakit, malu, dan senang secara bergantian berulang kali. 

Apa kamu sadar? Semua yang kamu lakukan membuat aku serasa diruang kosong yang benar-benar hampa. Aku hanya bisa merasakan sesak, namun aku tidak tau aku harus merasakan apa kepadamu. Hanya hatiku sesak dengan semua hal yang kamu lakukan padaku. Entah harus senang atau sedih, perasaanku seolah tanpa deskripsi.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar